Archive for November, 2009

INIXINDO LANGUAGE CENTER cabang Langsa

LATAR BELAKANG INIXINDO Language Center, lembaga ini didirikan oleh tenaga-tenaga ahli yang berpengalaman dalam berbagai bidang keilmuan dan profesi yang mendedikasikan diri mereka dalam perkembangan dunia pendidikan di Indonesia, khususnya dalam bidang pelatihan dan pengembangan pengajaran bahasa asing dan keprofesian. Dalam pengimplementasian visi, misi dan tujuannya di masyarakat, INIXINDO Language Center diketuai oleh Bapak Nasruddin Abubakar, S.Pd.I ini membentuk Tim Pelaksana yang bertanggung jawab menjalankan program lembaga ini. Meskipun tergolong muda dalam usia, namun lembaga ini didukung oleh tenaga-tenaga muda yang berkompeten, berdedikasi. Pencakupan bidang keahlian yang beragam dari para anggotanya tersebut baik di dalam ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan landasan yang kokoh dalam dalam pencapaian visi, misi, dan tujuan organisasi serta memiliki wawasan ke depan guna mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bertanah air. Dengan demikian INIXINDO Language Center diharapkan untuk dapat berfungsi sebagai penghubung yang menjembatani keragaman kebutuhan atas penguasaan iptek, keprofesian serta kemampuan penguasaan bahasa dalam upaya pemberdayaan individu yang profesional. Selama berdiri, INIXINDO Language Center melakukan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan pendidikan, pelatihan, penyediaan dan pengadaan perangkat serta piranti pelatihan, penyebaran informasi, penelitian dan pengembangan metode pengajaran efektif.

VISI Menjadi lembaga terbaik dan terpercaya dalam penyelenggaraan pelatihan, pendidikan dan pengembangan bahasa asing & keprofesian di Indonesia.

MISI Mengembangkan program pelatihan & pendidikan keprofesian serta bahasa asing yang efektif dan efisien serta sesuai dengan kebutuhan pembangunan bangsa Menerapkan metoda pelatihan yang inovatif dan kreatif serta efisien Menjadi mitra kerja pemerintah, swasta, badan dan lembaga independen serta organisasi internasional yang kompeten TUJUAN Meningkatkan kecerdasan intelektual, sosial dan emosional masyarakat Menciptakan sumber daya manusia profesional yang mumpuni dan siap pakai Menyebarluaskan informasi pendidikan dan pelatihan dalam bentuk buku, jurnal, dan media lain yang berfungsi sebagai sarana pencerdasan bangsa Menjembatani kebutuhan pasar dan kemampuan klien dalam upaya peningkatan kapasitas dan kapabilitas guna mendukung pertumbuhan yang berkesinambungan

RUANG LINGKUP KEGIATAN Pendidikan & Pelatihan Pengkajian dan Penelitian Kemitraan antar lembaga baik dalam maupun luar negeri Event Organizer (EO) Konsultasi & Asistensi

JASA & SERVIS 1.Divisi Pengembangan Keterampilan Bahasa In-Company Training Business English Conversation & Skills English for Specific Purposes General English Converstaion Customized English, etc. International Tests GMAT, IELTS , TOEFL, TOEIC test service International Language Proficiency Preparation Course 2.Divisi Pengembangan Keterampilan Profesional Assessment Center Corporate Recruitment, Promotion, Overseas assignments Special Projects Government agencies & Local and international NGOs

Iklan

Julukan PSBL ‘Laskar Sidom Apuei’


LANGSA-Publik di Kota Langsa meminta pemerintah setempat atau pihak terkait agar segera menganti julukan Blue Eagle atau Elang Biru bagi PSBL. Tapi yang layak dan pantas adalah Laskar Sidom Apuei (Laskar Semut Api). Karena bagi sejumlah kalangan nama juga membawa sangat berpengaruh terhadap keberuntungan.

Melihat prestasi PSBL Langsa dalam setap musim kompetisi tidak membawa perubahan yang membuat citra persepak bolaan Langsa meroket. Bahkan sebaliknya, PSBL Langsa selalu dihujat, dicibir dan dicemooh. Oleh seluruh lapisan masyarakat, apalagi bagi mareka yang orang-orang yang pernah sakit hati dengan menajemen PSBL.

Atas beberapa hal itu lah mengundang perhatian para pecintanya, apakah penambatan nama Blue Eagle atau elang biru bagi PSBL Langsa tidak membawa keberuntungan kali. Coba ganti julukan, kita mau lihat.

Demikian dikatakan Cicik Abdullah, pemerhati sepak bola di Langsa, kepada Rakyat Aceh, Rabu (5/8).
Menurutnya, terkadang nama juga berpengaruh terhadap kesuksesan sebuah tim. Tapi yang sangat penting, julukan bagi sebuah tim harus memiliki nilai-nilai historisnya., bukan asal-asalan saja.

Begitu juga dengan penambatan julukan elang biru alias Blue Eagle bagi PSBL Langsa tidak tahu persis dari mana asal muasalnya. Tiba-tiba begitu tampil di pentas kompetisi Divisi I, PSBL Langsa disebut-sebut elang biru alias blue eagle.

”Saya tidak tahu dari mana asa julukan itu, kalau dikait-kaitkan dengan Kota Langsa jelas-jelas tidak memiliki nilai sejarahnya, begitu juga bila dikaitkan dengan kosa kata ke Acehan, tidak mengena” ujar Cicik seraya menambahkan gimana kalau julukan PSBL Langsa untuk musim ini kita ganti dengan nama Laskar Sidom Apuei (Laskar Semut Api).

Laskar sidom apui dalam bahasa aceh, sangat ditakuti karena gigitannya, dan bahkan orang aceh sering memberi gelar kepada tim atau individu yang hebat dan berani dalam sebuah even. ”Ka lagei sidom apuei” (seperti sumut api),” sebutnya.

Terkait nama bagi saya yang penting memiliki nilai-nilai sejarah wilayah atau memiliki makna lain yang bisa dipertanggungjawabkan secara ke acehan, seperti PSLS yang julukannya Laskar Pase, PSSB Bireun Bateei Kureeng, Persiraja Lantak Laju, dan PSAP Aneuk Nangroe .(ris)

Plus Minus Pembangunan Kota Langsa

PADA 17 Oktober 2009, Pemko Langsa genap berusia 8 tahun. Sebagai sebuah kota hasil pemekaran dari kabupaten induk Aceh Timur,

sudah sepantasnya pula kita sebagai warga yang lahir dan dibesarkan di daerah ini bersyukur dengan hasil yang telah dicapai.

Memang, plus-minus dalam derap pembangunan kota Langsa masih kita jumpai dan rasakan, namun yang patut kita sadari bahwa pembangunan akan terwujud dan berhasil bila mendapat dukungan dan partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat. Pemerintah atau pejabat pemerintah hanya sebagai salah satu alat untuk menakhodai pembangunan, namun pelaku-pelaku utama pembangunan itu adalah masyarakat kota Langsa seluruhnya.

Tanpa dukungan masyarakat, mustahil pembangunan yang diharapkan dapat terwujud apalagi bila masyarakat sendiri menaruh rasa apatis dan tak mau peduli dengan keberadaan kotanya yang tercinta.

Seiring dengan 8 tahun usia Pemko Langsa ini, ternyata hanya satu sisi saja yang menunjukkan pertumbuhan luar biasa di sektor fisik yakni menjamurnya pembangunan pusat pertokoan atau ruko-ruko di sejumlah sudut kota ini. Sementara pembangunan dunia pendidikan yang selama ini cukup memberikan kebanggaan bagi daerah ini masih jalan di tempat, tidak banyak gedung sekolah baru yang dibangun.

Pembangunan infrastruktur berupa sarana dan prasarana umum masih belum membanggakan. Bahkan pembangunan infrastruktur ini banyak program tambal sulam, sudah dibangun, dibongkar dan dibangun yang lainnya.

Untuk kondisi ruas jalan di wilayah Pemko Langsa, masih banyak dijumpai jalan-jalan yang rusak demikian juga pembangunan sarana irigasi masih sangat minim.

Kota Langsa yang memiliki beberapa desa dan kecamatan yang pantas diberdayakan sebagai lumbung pangan daerah ini masih kerap terabaikan dibanding-kan sektor jasa lainnya.

Desa Alur Merbau, Buket Metuah, Alur Pinang yang merupakan pemasok utama padi sawah untuk Pemko Langsa malah masyarakatnya masih mengandalkan sawah tadah hujan. Bila hujan turun, maka persawahan ditanami namun bila kemarau petani kelimpungan kekurangan air.

Masih Kurang

Zulkifli, salah seorang pengurus KTNA Kecamatan Langsa Timur kepada wartawan baru-baru ini menyatakan perhatian Pemko Langsa terhadap sektor ini masih sangat kurang. Irigasi yang didambakan petani masih sangat minim. Kalaupun ada banyak yang rusak akibat dibangun asal jadi seperti irigasi di Desa Asam Petek yang hancur akibat diterjang banjir.

Hal senada juga dikatakan M Yusuf, salah seorang pengurus KTNA Kota Langsa. Pemko Langsa masih kurang perhatian terhadap nasib para petani. Pemerintah Pusat sudah berencana menaikkan harga pupuk bersubsidi, tapi Pemko Langsa masih terkesan diam saja. “Harga tidak naik saja, pupuk susah kita dapatkan apalagi bila harga naik, maka penderitaan rakyat akan makin bertambah,” katanya.

Sejumlah masyarakat yang berdomisili di kawasan daerah aliran sungai (DAS) Krueng Langsa yang selama ini kerap menjadi langganan banjir, masih saja terus berkutat dengan banjir. Upaya pelurusan Krueng Langsa yang sedang dikerjakan belum memberikan hasil positif. Ironisnya, bronjong penahan abrasi yang baru dibangun sudah ambruk.

Di bidang olahraga, harapan besar yang didambakan dari prestasi PSBL Langsa sebagai peserta Divisi I PSSI Badan Liga Amatir Indonesia (BLAI) hingga saat ini belum memberikan prestasi berarti.

Miliaran rupiah dana APBK Langsa yang diplotkan untuk tim ini, terbuang percuma karena PSBL masih setia sebagai pecundang di Divisi I. Sementara lawan-lawannya dari tim lokal Aceh maupun lainnya sudah naik kasta ke level lebih tinggi Divisi Utama dan Liga Super.

Untuk bidang olahraga lainnya, masih kurang mendapat perhatian dibandingkan sepakbola. Padahal ada sejumlah cabang olahraga yang lebih berprestasi membanggakan.

Hanya di bidang pendidikan yang patut dibanggakan, karena prestasi-prestasi pelajar Langsa cukup disegani oleh daerah lain.

Sektor pemerintahan, kinerja aparatur Pemko Langsa masih belum baik, masih banyak klaim dari masyarakat yang mengkritik buruknya kinerja pejabat daerah ini. Pejabat yang terkait dengan proses hukum juga masih kerap dijumpai.

Untuk sektor perdagangan, persoalan pelik antara pedagang pasar dan pemerintah Kota Langsa masih terus berlangsung. Pedagang masih banyak menolak peraturan dan penertiban dari Pemko Langsa sementara solusi bagi penertiban para pedagang kakilima belum ada kejelasan.

Menyimak dari uraian diatas, rasanya masyarakat kota Langsa pantas menaruh harapan tinggi pada Walikota Zulkifli Zainon, apalagi Aceh sudah memasuki dan menikmati gerbang damai, UU-PA sudah lahir dan sebagainya. Demikian pula dengan anggota dewan (DPRK) Langsa yang baru sudah dilantik dan ureung nanggroe (sebutan untuk orang Aceh-red) sudah memimpin dewan yang terhormat ini.

Mungkin pada masa Pj Walikota Langsa perdana H.Azhari Aziz, Pemko Langsa masih meraba-raba, pada masa Pj Walikota HM Yusuf Yahya mulai berpikir lebih maju untuk berbuat sesuatu bagi kota ini, dan Pj Walikota Muchtar Achmadi Pemko Langsa sedang berupaya keras memacu derap pembangunan, maka pada masa walikota pilihan rakyat, Zulkifli Zainon ini lah masyarakat menikmati berbagai kemajuan yang diidamkan.***

Hutan Bakau, Lingkungan Akuatik yang Mulai Rusak


Oleh
Teuku Kemal Fasya

Jika Anda penggila wisata kota pesisir, jangan lupakan Langsa. Sejarah Langsa sebagai kota pesisir dikenal lama di semenanjung Lamuri (Aceh), selain Bandar Aceh dan Meulaboh. Secara historis kota ini menjadi batu loncatan islamisasi Sumatera Timur, dengan tokoh utamanya Sultan Muhammad Kampai atau dijuluki Teungku Keramat Panjang.
Secara antropologis Langsa terkenal sebagai kota multikultur, karena pembauran pelbagai etnis: Jawa, Batak, Melayu, Tapanuli, China, Tamil, dll, sehingga menjadi satu-satunya “kota yang terberkati” di masa konflik.
Satu yang pasti menyenangkan dari Langsa adalah pelabuhannya. Jalan menuju Kuala Langsa dilindungi hutan bakau yang rimbun.
Matra iklim pun membalur kenyamanan, karena cuaca yang sering berawan dan hujan. Hidrografi kota pelabuhan yang memiliki dua pintu masuk ini pun cukup tenang. Salah satunya karena hempasan angin darat dan laut di Selat Malaka teredam oleh padatnya hutan.
Namun, kini sejarah hutan akuatik itu mulai nelangsa. Bakau yang lebat, tempat bergantungnya ratusan fauna seperti kera, bangau, dan tupai mulai raib. Statusnya sebagai hutan lindung tidak menyurutkan pembabatan massal. Pelakunya masyarakat sekitar.
Setahun terakhir hutan bakau Kuala Langsa telah hilang separuhnya. Bandul waktu mengumpulkan satu lagi obituari hutan bakau nusantara, dan satu-satunya rimba bakau potensial di Nanggroe Aceh Darussalam.
Lamurnya Hukum
Jika diteliti lebih jauh, kerusakan hutan bakau di Indonesia bukan hanya disebabkan bergeraknya tangan-tangan globalisasi dalam mengembangkan proyek eksploitasi, seperti hutan darat, la-han gambut, atau terumbu karang, tapi juga problem riil masyarakat pesisir.
Menurut lembaga pangan PBB, FAO, pemanfaatan hutan bakau Indonesia memberikan tambahan devisa hingga 2 miliar dolar AS pertahun, tapi tidak berimbas pada kesejahteraan masyarakat pesisir.
Hasil riset Asian Development Bank (ADB), angka kemiskinan absolut di Indonesia sebagian besar diderita ma-syarakat pesisir (80 persen). Hal ini memberikan gambaran bahwa pemanfaatan potensi hutan akuatik di Indonesia tidak menempatkan masyarakat pesisir sebagai aktor utama ekonomi.
Pengalihfungsian hutan bakau menjadi areal pertambakan telah memupuk proses ketergantungan baru. Hampir seluruh pekerjanya adalah masyarakat lokal yang telah menjadi buruh upah murah dari tanah-tanah yang dahulunya mereka miliki.
Krisis ekonomi tahun 1997 telah menyebabkan masyarakat menjual tanah-tanah miliknya, dan memanfaatkan hutan adat atau lindung sebagai tempat bergantung. Belum lagi pengalihfung-sian hutan untuk proyek infrastruktur.
Kasus korupsi yang sedang merebak saat ini tentang pengalih-fungsian 600 hektar hutan bakau untuk pembangunan pelabuhan di Tanjung Siapi-api, Su-matera Selatan, menunjukkan fenomena kerusakan permanen bagi akuatik hijau yang seharusnya mampu menghadang abrasi dan produsen oksigen murni bagi daerah pesisir.
Akibatnya mudah ditebak. Hutan bakau Indonesia yang sebenarnya terluas di dunia mengalami proses deforestasi ekstrem. Dari 8,6 juta hektare hutan bakau di tahun 1986, kini hanya tersisa kurang 2 juta hektar. Peraturan menteri kehutan yang melarang ekspor kayu bakau tidak menyurutkan praktik pedagangan ilegal. Arang bakau meninggalkan efek harum panggangan dan disenangi konsumen Jepang, Hong Kong, dan Amerika. Bukan rahasia, sebagian besar berasal dari black market Indonesia.
Kontradiksi antarperaturan yang pro-konservasi versus pro-eksploitasi semakin berkibas-libas. Ini jelas terlihat dari penerapan Perpu No. 1/2004 yang kemudian berubah menjadi UU No. 19/2004 tentang (eksploitasi) hutan. Pemantik bom waktu yang ditinggalkan Megawati di akhir masa pemerintahannya dipercepat ledakannya oleh Yudhoyono melalui peraturan organik (PP No. 2/2008 tentang pendapatan negara bukan pajak dari eksploitasi hutan lindung).
Bahkan kini, Menteri ESDM Pur-nomo Yusgiantoro tengah bergiat me-ngeluarkan Keppres yang memperluas kesempatan eksploitasi hutan bagi pemain baru. Apa gunanya peraturan menteri yang melarang ekspor jika secara internal pemerintah tidak mengurangi ego eksploitasinya atas hutan-hutan nusantara?

Mencabut Kemanusiaan
Secara nasional pemerintah seperti tidak memiliki pilihan maknyus, di te-ngah krisis minyak global yang entah kapan usai. Namun efek kerusakan lingkungan dan kebangkrutan ekonomi jangka panjang juga perlu dipertimbangkan.
Makanya, alih-fungsi hutan seperti tidak bersanksi tegas, karena pemerintah juga tidak memiliki program berkelanjutan dalam menangani problem kemiskinan masyarakat pesisir.. Sima-la-kama ini hanya akan terpecahkan jika pemerintah kembali memfungsikan hukum adat, menertibkan logika hukum dan mencabut peraturan-peraturan yang melegalkan praktik komersialisasi hutan, serta mengadvokasi problem kemiskinan masyarakat pesisir dengan program berkesinambungan dan pro lingkungan.
Prinsip keseimbangan ekologis sebenarnya dimiliki semua komunitas hutan, baik pesisir atau pedalaman. Di Aceh dikenal hukum adat yang dikelola oleh pang laot. Ia tidak hanya mengatur lalu-lintas pelayaran tapi juga pemanfaatan hutan dan biosfer bakau.
Prinsip produksi-konsumsi hutan bakau oleh masyarakat pesisir tempo doeloe sebenarnya tidak sampai menganggu ekosistem utama. Sanksi adat yang kuat dan religio-magis dipercaya mencegah tindakan berlebihan atas hutan. Saat ini kebaikan adat tergerus rasionalitas kapital yang menawarkan mimpi perubahan dan hedonisme.
Pembangunan fasilitas komersial seperti hotel dan restoran di wilayah hutan bukan hanya mengubah kultur tapi juga perbudakan ekonomi masyarakat lokal. Masyarakat pesisir paling menjadi babu, office boy, dan satpam di tanah nenek moyang mereka. Mereka tuan tanpa tanah dan harga diri.
Moralitas adat perlu kembali dihidupkan. Mencabut sebuah pohon bakau tanpa alasan yang jelas sama de-ngan mencabut satu nilai kemanusiaan masyarakat lokal. Sejuta pohon tercabut sama dengan sejuta resiko yang bakal mereka terima. Pelan atau cepat sejarah kerusakan akan terulang, dan pasti meninggalkan tragedi kemanusiaan. DSC01310

foto-foto terbaru kota langsa

Profile Kota Langsa

KOTA LANGSA
ADMINISTRASI
Profil Wilayah
Setelah Kota Langsa lepas dari Kabupaten Aceh Timur tahun 2001, struktur
perekonomian dibnagun atas perdagangan, industri, dan pertanian. Sejak lama
Langsa dikenal sebagai pusat perdagangan dan jasa, khususnya hasil bumi dari
Kabupaten Aceh Timur, Aceh Tamiang, dan paling banyak dari Medan, Sumut.
Kota Langsa merupakan kota pesisir yang memiliki garis pantai 16 km. Penduduk
yang sangat heterogen –Aceh, Jawa, melayu, Gayo Batak, dan karo- hanya berjarak
246 km dari Kota Medan, menyebabkan Langsa memiliki banyak kemiripan dengan
Medan.
Langsa merupakan kota kecil dengan keramaian yang terpusat di dua titik. Jalan
Teuku Umar sebagai pusat pertokoan dan pasar tradisional selalu ramai sejak pagi
sampai malam hari. Demikian juga Jalan Ahmad Yani, jalan protokol dua jalur yang
membelah kota ini selalu dipadati warga.
Udang windu yang kemudian dibekukan ini sebagian diperoleh dari tambak udang
yang tersebar di seluruh kecamatan dan sebagian didatangkan dari tambak pesisir di
Aceh Timur dan Aceh Tamiang. Tahun 2003 luas tambak produktif di Kota Langsa
sekitar 4.647 Ha.
Kondisi perikanan Kota Langsa cukup potensial dikembangkan, Selain udang windu
dibudidayakan pula udang putih dan udang api-api. Langsa juga membudidayakan
ikan jenis ekonomis tinggi seperti ikan kerapu yang tahun 2001 mencapai 90.000
benih. Benih-benih ini dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan ekspor ikan kerapu
ke Singapura dan Malaysia.
Tabel 1. LUAS WILAYAH KOTA LANGSA
Kecamatan dengan luas wilayah terbesar yaitu Kecamatan Langsa Timur sedangkan
kecamatan dengan luas terkecil yaitu Kecamatan Langsa Kota.
Orientasi Wilayah
Secara geografis wilayah Kota Langsa
mempunyai luas wilayah 262,41 km2
dengan batas-batas sebagai berikut :
Batas Utara : Kabupaten Aceh
Timur dan Selat Malaka
Batas Selatan : Kabupaten Aceh
Timur dan Kabupaten Aceh
Tamiang
Batas Timur : Kabupaten Aceh
Tamiang
Batas Barat : Kabupaten Aceh
Timur

kotalangsa

gerbang masuk kota langsa

Sebaran dan Kepadatan Penduduk
Tabel 3. SEBARAN DAN KEPADATAN PENDUDUK
DI KOTA LANGSA TAHUN 2002
Penduduk
No.                Kecamatan
Jumlah (Jiwa)         Kepadatan
(Jiwa/Km2)
1. Langsa Kota                                           43.653                 842
2. Langsa Barat                                          33.088                 370
3. Langsa Timur                                          37.096                 306
Total                                                    113.837              1.518
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Aceh Timur, 2003
Kecamatan dengan tingkat kepadatan tertinggi yaitu Kecamatan Langsa Barat (842
jiwa/km2) sedangkan kecamatan dengan tingkat kepadatan terendah yaitu
Kecamatan Langsa Timur (306 jiwa/km2).
Jumlah penduduk Kota Langsa dari data terbaru yang didapat adalah 141.138 jiwa
(Badan Pusat Statistik)

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!